Suka Duka Menjadi Seorang Pelajar

Assalamualaikum, kali ini #MrOnline akan sharing tentang pendidikan formal yang tentunya sudah #MrOnline alami sendiri. Let’s see happy reading guys, Aku bagi menjadi beberapa Fase jenjang pendidikan dan akan mengulasnya secara singkat.

Fase SD

cerita-lucu-sd

Pertama pada zamannya aku tahu pendidikan, saat usia aku masih balita ketika itu kaka aku sudah Aliah kalo nggak salah, beliau sering ngajarin tulis – tulis di buku, aku dibelikan buku tulis berwarna cover merah ( ciyee masih ingat ), kemudian seiring berjalannya waktu tiba saatnya aku masuk bangku Sekolah Dasar, dulu belum ada PAUD ya adanya TK itupun jauh lokasinya, jadi ceritanya sore itu ditahun 2000 an diantar sama emak aku ke rumah Ibu Ponirah namanya (Guru kelas 1 SD yang terkenal seantero desa) eits.. bukan karena beliau sering upload foto – foto selfie di IG yah tapi karena keramahan dan kesabaran dalam mendidik murid – muridnya sampai sukses at lease bisa baca tulis, karena ketika itu masih banyak loh wali murid yang buta huruf & sampai ada salah satu program PKK desa khusus untuk memberantas buta huruf dikalangan warganya. Langsung saja, setelah melengkapi segala proses administrasi yang tergolong sederhana, aku diterima menjadi siswa SDN Ragatunjung 01, tepatnya di Dk. Pesawahan, Desa Ragatunjung, kec. Paguyangan, Kab. Brebes, Jateng 52276. Ibu Ponirah memberi pengarahan tentang peralatan yang harus dilengkapi sekaligus tanggal masuk sekolahnya. Hari pertama masuk SD serasa sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan, kami berangkat sehabis sholat shubuh kesekolah sejak jam 04 pagi suasana tiap rumah sangat ramai, mereka sedang mempersiapkan anak – anaknya untuk berangkat ke sekolah mencari bangku, “ayoo cepat, jangan sampai kesiangan nanti nggak kebagian bangu, teriak salah satu tetangga, (Pada saat itu siswa disekolah kami cukup banyak, dan fasilitas sekolah masih sangat minim, 1 bangku bisa dipake 3 orang, kadang mejanya sudah pada berlubang). Udara ketika itu sangatlah sejuk sampai – sampai dihidug sampai nyenggrak saking sejuknya (Kangenn baget masa masa itu), aku berangkat rame – rame sebagian wali murid mengantar kami kesekolah kemudian sebagian ada yang bawa obor (karena jalanan masih cukup gelap, desa kami terkenal dengan pohon bambunya yang sangat rimbun), sesampainya disekolah setiap pintu kelas sudah dipadati oleh wali murid yang mengantri. Padahal, kelas baru akan dibuka sekitar 2 jaman lagi, waah kebayangkan J, hari – haripun terus berlanjut aku mendapatkan bangku ditengah no.2 alhamdulilah, kami menempatinya ber3, aku, Sandi & Tohir. Keseruan keseruanpun terus terjadi disetiap hari- harinya mulai dari ada yang pipis dicelana karena nggak berani izin ke toilet sama bu guru, sampai ada yang pup dicelana juga, hhahha lucu, alhamdulilah aku bukan yang termasuk J oya waktu aku kelas 1 – kelas 3 setiap minggu berapa kali gitu dikasih makanan tambahan, waktu itu dalam bentuk snack kadang buah dan susu, ada juga telur rebus, suatu hari kami main lempar – lemparan menggunakan kulit buah rambutan kemudian ibu guru mengancam kita tidak akan diberi makanan tambahan lagi, peace bu guru J aku termasuk tertinggal dalam hal membaca, baru bisa membaca saat naik ke kelas 2 SD, tapi daya ingat saat itu cukup bagus, ibu guru menulis dipapan kemudian 1 per satu kami disuruh maju kedepan kemudian aku berpura bura bisa baca, padahal sudah menghafal teks sebelumnya. Lambat laun akhirnya ketahuan juga, ibu guru memarahi aku didepan teman – teman “ malu donk dimas kamu kan sudah gede masa iya belum bisa baca, malu donk malu..!!” celoteh ibu guru. Dari situ aku belajar dirumah buka –buka buku minta diajarin kaka sampai akhirnya sadar bahwa aku bisa membaca, kalimat yang pertama aku baca waktu itu “yang”. Naik ke kelas 2 SD disini masa – masa berkabung dalam hidupku setelah ditinggal pergi oleh nenek tercinta ( masih ingat banget dulu kalo aku dimarahi emak, beliau yang membelaku, kalo aku mau makan beliau mengeluarkan Pete kupas dari buntelan kain yang beliau pakai, karena beliau tahu aku doyan banget sama yang namanya pete. Semoga Allah swt mengampuni segala dosa –dosanya, aamin). Saat kenaikan kelas / catur wulan, intinya pas hari pembagian raport, abah aku meninggal dunia setelah beberapa hari beliau dirawat di RS Islam, sampai raport aku ada yang mewakili untuk mengambilnya dan ketika itu aku masuk peringkat 9 apa 7 ya lupa J, hari – haripun dimulai dengan segala kesedihannya, wah aku resmi menyandang predikat anak yatim, mulai kelas 2 SD, emakku tiap hari menanggis ditengah sujudnya, tak jarang beliau sholat Dhuhur sampai 5 rokaat, setiap sore sambil duduk didepan pintu sambil mendengarkan radio am peninggalan abahku yang masih pake batere, sambil berkaca – kaca beliau bilang seperti menunggu seseorang yang sedang merantau jauh, namun entah siapa dia, dan entah kapan kembali. Intinya beliau benar – benar sedih yang sangat mendalam belahan jiwanya pergi. Masa – masa sulitpun mulai datang silih berganti emak mulai bingung bagaimana caranya membiayai aku sekolah sampai tingkat lanjut, baru kelas 3 SD saja kami sudah cukup kesulitan ekonomi, emaku harus banting tulang dengan keras mengolah kebun dan sawah yang dibeli sama sama almarhum abah dimasa produktifnya dulu. Akupun secara tidak langsung ikut terbebani mentalnya melihat emakku banting tulang, aku ikut merasa sedih namun #MrOnline kecil ketika itu tidak bisa berbuat apa –apa, dan nggak tahu harus berbuat apa bayangan putus sekolah pun sempat terlintas, namun kepikiran juga kalo nggak sekolah mau ngapain juga, emakku berkomitmen kamu harus tetap sekolah, rajin belajar, ngaji & sholat aja sudah tidak disuruh untuk melakukan pekerjaan selain itu. Terbayang dikepala beban yang cukup berat mengingat disekolah aku termasuk siswa yang tidak pandai – pandai amat, bahkan nilai MTK aku jelek selalu dibawah 6, ketika itu aku berfikir kalo anak yang pinter itu yang nilai MTK nya tinggi. Musim – musin terus berganti, dan akhirnya tidak terasa aku sudah naik di kelas 5 SD, dimana sudah banyak hal & ilmu yang aku pelajari mulai dari MTK yang semakin rumit as : pecahan/ per peran kami menyebutnya, bilangan decimal, menghafal perkalian dan melihat dunia secara lebih luas, ada beraneka mahluk hidup yang ada dibumi. Dari sekian banyak disiplin ilmu aku lebih suka belajar tentang IPA & IPS, aku takjub saat belajar IPS karena ternyata dunia ini sangat luas ada banyak Negara Negara, lebih takjub lagi saat belajar IPA aku baru sadar kalo dunia ini bulat, matahari adalah 1 bintang yang letaknya dekat dengan bumi, suka sekali belajar tentang hewan – hewan, dan tumbuhan sampai –sampai sejenak aku lupa kalo aku adalah anak Yatim dan pertamakalinya aku punya cita-cita ingin menjadi jurnalis National Geographic / Discovery Chanel, aku ingin berkeliling dunia dan melihat lebih banyak lagi keanekaragaman flora dan fauna ciptaan Alah swt. Ketertarikanku pada 2 bidang disiplin ilmu ini mengantarkan aku naik kelas 5 dengan peringkat tertinggi, ya pertama kalinya aku meraih peringkat 1, setelah sebelumnya paling mentok berada diperingkat 3, pada beberapa ulangan nilai IPA & IPS aku nyaris sempurna. Begitupula dengan bahasa Indonesia aku tak jarang untuk maju kedepan kelas dan membaca teks mencontohkan cara membaca yang cepat dan benar sesuai tanda baca & intonasi, padahal dulu aku termasuk telat bisa membaca dibanding teman – teman kelas yang lainnya J sayangnya tidak begitu dengan MTK. Nilai mtkku masih stuck hhahha bahkan tak jarang minta contekan kalo ada PR, sampai – sampai guru kelas 4 ku Pak Mario bilang “Kalo pak Guru dari pada pelajaran IPS, mendingan MTK karena tidak perlu menghafal katanya.” Singkat cerita aku memulai hari – hariku sebagai anak kelas 5 & ternyata peringkat pertamaku tidak membawa kebahagiaan, melainkan sebaliknya, masih ingat awal mulanya saat pelajaran mengenai progapet ( pembagian menggunakan table & akan ditemukan jawabannya setelah sampai hasil bawahnya = 0). Ketika itu Pak Amran guru SDku sambil menerangkan di papan tulis beliau spontan melemparkan pertanyaan padaku berapa “angka desimalnya 63 Dimas..?” aku langsung terkaget – kaget yang dari tadi memang memperhatikan papan tulis namun bukan menyimak pelajaran namun nahan kantuk sambil menguap – nguap. 2 kali aku jawab dan keduanya salah pak Guru bilang “kamu kemplu banget Sih..!!” (Kemplu Baca : B*d*h) sejak saat itu, setiap hari khususnya saat pelajaran mtk, aku semakin menjadi bulan bulanan dan hujatan pak guru, pak Amran memang terkenal sebagai guru killer disekolah kami, temen- temen melihat aku digituin malah pada senang, kenapa??? Karena mereka aman dari hujatan pak guru, aku yang menjadi tumbal setiap ada PR / soal pasti aku yang pertama kali disuruh maju kedepan, pernah aku didepan terus dari awal pelajaran sampai istirahat karena aku belum juga bisa menyelesaikan soal progapet, keringat dingin, bulu kuduk berdiri semuanya campur aduk pak guru tidak henti – hentinya membrondongiku dengan berbagai macam pertanyaan sekaligus ejekan, tingkah teman –teman pun semakin menjadi jadi, aku jadi sasaran bulliying dilempari pake kapur tulis sampai batu kerikil sudah menjadi makanan sehari hari, setiap aku pulang, aku selalu mengurung diri sambil mengingat hal – hal yang aku alami disekolah sungguh berat untukku. Sampai aku bertanya – Tanya kelak mau jadi apaan yah, sekolah saja begini, setiap menjelang sholat Ashar, jantung mulai berdebar kencang karena sebentar lagi malam, malam berasa sangat cepat, saat sholah Shubuh aku selalu menangis tak kuasa menahan bendungan air mata ini, sudah terbayang hari ini aku mau diapain lagi yah sama pak guru, I was so sad .. L sampai puncaknya saat lomba tahunan Cerdas Cermat tingkat kecamatan, waktu itu namaku tidak diikutsertakan dalam formasi, digantikan dengan temanku yang dianggap pak guru jauh lebih pintar dari aku, padahal dalam lomba tersebut ada 3 kategori yaitu, IPU (Ilmu pengetahuan umum, include MTK), PAI (Pendidikan Agama Islam) & IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Paling tidak kan ada kategori IPA kenapa pak guru tidak memilihku untuk maju, padahal bidang ini merupakan favoritku dan selalu aku meraih nilai tertinggi baik ulangan maupun semesteran. Lagipula aku masih peringkat 1 nya, dan aku hanya jelek di MTK saja tidak di mapel lainnya. Aku drop banget dan memberi selamat pada temanku itu yang mewakili dalam kategori IPA, dalam hati aku sedih bgt, yang lebih malunya lagi saat saudaraku datang berkunjung, beliau bertanya Dimas minggu besok ikut lomba ya, bareng sama Aan, (Aan anak saudaraku yang juga salah seorang guru di SD lain). Aku jawab enggak.. sambil nyengir. “Loh kok enggak bukannya peringkat 1.??” Tanya saudara, “Nggak tahu mas.. L” . selama itu aku memang tidak pernah menceritakan hal ini kepada siapapun tentang hal – hal yang aku alami disekolah, hanya dipendam dalam hati. Niat Pak guru memang sangat baik aku sadar, beliau bermaksud mendidiku, namun pak guru juga melupakan 1 hal beliau telah merenggut kepercayaan diriku & cita – citaku. Saat itu aku berjanji pada diriku sendiri , “aku nggak mau jadi rangking 1 lagi”. Waktu terus berjalan temenku yang bernama Makmuri banyak membantuku, terimaksih friend, setiap ada soal / exam pasti aku selalu menanyakan kamu berapa hasil ahirnya? Kalo sama berarti aku bisa bernafas lega, karena Makmur termasuk yang paling pintar dalam MTK dan dia jugalah yang dipilih pak guru untuk menggantikanku dalam kompetisi IPA itu, meskipun belum juara, tapi kereen sudah berjuang. Ujian kenaikan kelas 6 SD sudah didepan mata, aku santai – santai dan sengaja tidak belajar, malah memberikan jawaban – jawabanku pada yang laiinya. Oya sekedar catatan semenjak aku dibully dikelas guru –guru yang lain menjadi ragu denganaku, memangnya si Dimas Pintar…??? Termasuk guru agama. Tiba waktunya penerimaan raport saat aku menerima deg –deg gan nih jantung, siapa peringkat satunya..??? dan taraaa.. ternyata aku meraih peringkat 2 alhamduliah berarti bukan aku lagi rangking 1 nya, melainkan Astuti cewe cerdas & sporty yang dari kelas 1 SD sudah bisa membaca duluan. Namun potensiku tidak bisa dibendung, sekalipun sudah ditahan – tahan, aku tetap meraih peringkat at lease 2 besar, dan nilai IPA / IPSku tetap yang tertinggi. Dan pada semester berikutnya, aku kembali terpilih diperingkat 1 & alhamdulilahnya kali ini, aku tidak menjadi korban bullying lagi, Pak Mulyono lebih bijak dalam menilai siswa – siswinya. Ketika menulis tulisan ini aku sadar dengan sistem pendidikan di Indonesia wabil khusus di Sdku dulu, semua siswa dinilai hanya dari 1 kemampuan saja dan disama ratakan dengan hanya 1 jenis ujian yaitu Matematika. Padahal potensi kami bermacam – macam ada yang unggul dalam bidang atletik, seni, sejarah, bahasa daerah, pendidikan agama, ilmu alam / sosial, dsb. Jika kami gagal dalam menjawab soal – soal matematika tetap dianggap anak b*d*h, tak peduli apapun potensinya. Hal ini ibarat menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, seperti yang pernah disampaikan oleh Albert Einstein “ Disebuah rimba raya ada banyak hewan seperti kera, gajah, jerapah, burung, harimau, kijang, tupai, ikan dll, mereka disamaratakan dalam 1 ujian yaitu kemampuan memanjat pohon, untuk mengetahui siapa yang lebih cepat. Its stupid ! . Aku berharap sudah tidak ada lagi ya sistem pengajaran yang seperti ini, tentu sudah sangat kuno! . Sebagai catatan, almarhum abahku dulu sangat mendukung cita –cita anaknya beliaulah yang menerapkan standar tinggi dalam impianku, beliau sangat mensuport potensi anak – anaknya. (semoga Allah swt mengampuni semua dosa – dosanya aamiin). Kelak jika aku punya anak, juga ingin seperti abah yang selalu mendukung & mengarahkan impian anak anaknya.

screen-shot-2013-04-13-at-6-37-29-pm

Hikmah yang dapat diambil dari hal – hal yang saya alami

  • Jadi lebih rajin sholat Shubuh, karena harus mengadukan semua hal pada Allah swt dan meminta bantuan NYA.
  • Harus lebih giat belajar lagi, karena apa yang kita anggap kuasai, ternyata masih sangat basic
  • Lebih berempati terhadap orang lain
  • Menilai semua hal bukan hanya dari 1 sisi saja

terimakasih guru – guruku yang telah mendidik saya selama ini

Sekian sharing kali ini, kapan – kapan dilanjut dengan jenjang selanjutnya ya thanks before

Wassalam

#MrOnline

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s